Terbaik bagi Anda, Terbaik bagi Kami

Detil Berita









iklan_kiri9.jpg

Admin Website | Rabu, 18 Jun 2014 15:21 WIB

Mengatasi Demam Pada Anak




Demam merupakan gejala sakit pada anak yang sering kita jumpai. Terkadang demam dapat membuat orang tua menjadi panik sehingga dapat menimbulkan tindakakan yang berlebuhan dari orang tua. Sebenarnya seperti apa demam itu dan bagaimana menanganinya pada anak- anak ? Apa yang terjadi pada tubuh kita ketika demam ? Kapan kita harus bawa anak kita ke dokter ?

Apakah Demam Itu ?

Demam adalah kenaikan suhu tubuh di atas normal terhadap respon tubuh terhadap suatu gangguan. Dikatakan demam bila :

  • Suhu rektal ( di dalam dubur )                    : lebih dari 38°C
  • Suhu oral ( di dalam mulut )                       : lebih dari 37.5°C
  • Suhu ketiak ( aksila )                                  : lebih dari 37.2°C
  • Termometer bentuk dot bayi digital           : lebih dari 37.8°C
  • Suhu telinga

             Mode rektal                                            : lebih dari 38°C

             Mode oral                                               : lebih dari 37.5°

Sedangkan menurut NAPN (National Association of Pediatrics Nurse ) disebut demam bila bayi berumur kurang dari 3 bulan suhu rektal melebihi 38°C. Pada anak lebih dari umur 3 bulan suhu aksila dan oral lebih dari 38.3°C.

Apa Penyebab Demam ?

Demam merupakan gejala, bukan suatu penyakit. Kebanyakan demam disebabkan oleh infeksi virus. Demam juga bisa disebabkan oleh bakteri, paparan panas yang berlebihan ( overhating ), dehidrasi atau kekurangan cairan, alergi maupun disebabkan gangguan sistem imun. Beberapa imunisasi anak – anak juga dapat menyebabkan demam.

Kapan demam akantimbul tergangtung dari vaksinasi yang diberikan ( biasanya imunisasi DTP / DTP, HiB dan MMR ). Sedangkan anak yang sedang tumbuh gigi, menurut penelitian tidak menyebabkan demam.

Bagaimana Cara Mengukur Suhu Tubuh Anak ?

Demam pada anak dapat diukur dengan menempatkan termometer ke dalam rektal, mulut, telinga, serta dapat juga di ketiak, segera setelah air raksa diturunkan selama satu menit dan dikeluarkan untuk dibaca.

AAP ( American Academy of Pediatrics ) tidak menganjurkan lagi penggunaan termometer kaca berisi merkuri karena kebocoran mercuri dapat berbahaya bagi anak dan juga meracuni lingkungan.

Pengukuran suhu mulut aman dan dapat dilakukan pada anak di atas usia 4 tahun, karena sudah dapat bekerja sama untuk menahan termometer di mulut. Pengukuran ini juga lebih akurat dibandingkan dengan suhu ketiak ( aksila ). Pengukuran suhu aksila mudah dilakukan, namun  hanya menggambarkan suhu perifer tubuh yang sangat dipengaruhi oleh vasokonstriksi pembuluh darah dan keringat sehingga tidak akurat. Pengukuran suhu melalui anus atau rektal cukup akurat kerena lebih mendekati suhu tubuh yang sebenarnya dan paling sedikit terpengaruh suhu lingkungan, namun pemeriksaannya tidak nyaman bagi anak. Pengukuran suhu melalui telinga ( infrared tympanic ) tidak dianjurkan karena tidak memberikan hasil yang tidak akurat sebab liang telinga masih sempit dan basah ( Lubis, 2009 ).

Pemeriksaan suhu tubuh dengan perabaan tangan tidak dianjurkan karena tidak akurat sehingga tidak dapat mengetahui dengan cepat jika suhu mencapai tingkat yang membahayakan. Pengukuran suhu inti tubuh yang merupakan suhu tubuh yang sebenarnya dapat dilakukan dengan mengukur suhu dalam tenggorokan atau pembuluh arteri paru. Namun hal ini sangat jarang dilakukan karena terlalu invasif.

Kapan Harus Membawa Anak Ke Dokter ?

Periksa anak ke dokter bila :

  1. Demam pada anak di bawah 3 bulan
  2. Demam pada anak yang mempunyai penyakit kronis dan defisiensi sistem imun
  3. Anak gelisah, lemah atau sangat tidak nyaman
  4. Demam berlangsung lebih dari 3 hari ( 72 jam )

Menurut NAPN, demam pada bayi di bawah 8 mingggu harus mendapat perhatian khusus dan mungkin membutuhkan perawatan rumah sakit. Bila anak tampak baik, kemungkinan infeksi bakteri kurang dari 3%. Bila tampak sakit, kemungkinan infeksi bakteri 26% dan bila tampak toksik kemungkinan infeksi bakteri 92%.

AAP menganjurkan segera menghubungi dokter, bila :

  1. Anak berumur kurang dari 2 bulan dengan suhu rektal lebih dari 37.9°C
  2. Bayi berumur 3 – 6 bulan dengan suhu lebih dari 38.3°C
  3. Bayi berumur 6 bulan ke atas dengan suhu lebih dari 39.4°C

Bila anak lebih dari 1 tahun mengalami demam tapi masih bisa makan, minum, tidur dan bermain seperti biasa, tidak perlu segera ke dokter, tetapi cukup dengan pengobatan di rumah oleh keluarga.

Bagaimana Pengobatan Anak Bila Demam ?

Demam merupakan gejala, bukan penyakit. Sehingga tidak perlu buru – buru memberikan obat demam. Kompres dengan air hangat, hindari kompres dengan air dingin atau alkohol. Kompres alkohol berbahaya karena apabila uap yang ditimbulkannya terhirup anak dapat berdampak buruk.

Tak perlu khawatir apabila anak tidak mau makan sama sekali, selama anak masih mau minum air teh manis atau susu 50 – 60 % dari jumlah biasa atau sekitar 400 – 500 cc dalam sehari. Tidak juga perlu khawatir bila anak masih aktif dan bermain seperti biasa. Karena pada umumnya, terutama anak hipersensitif saluran cerna anak dengan picky eaters akan mengalami sulit makan saat demam. Biasanya tidak akan berlangsung lama, anak tersebut mengalami dalam 3 – 5 hari. Orang tua harus khawatir bila anak tampak lemas berlebihan, seharian tidur dan anak gelisah sepanjang hari.

Parasetamol dianggap cukup aman dibandingkan dengan obat penurun demam golongan lain, karena efek samping ke saluran pencernaan minimal.  Dapat diberikan secara oral maupun rektal. Namun bila digunakan melebihi dosis yang dianjurkan dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan hati. Selalu baca petunjuk penggunaan pada kemasan atau ikuti petunjuk dokter spsesialis anak anda.

Ibuprofen selain dapat menurunkan demam dan meredakan nyeri, memiliki manfaat anti inflamasi ( anti radang ) rendah. Efek sampingnya berupa mual, perut kembung dan yang paling parah pendarahan di lambung. Jangan berikan ibuprofen pada anak yang diduga terdiagnosa demam berdarah karena dapat menyebabkan pendarahan pada lambung.

 

dr. Arti Kusumawati, M.Kes, Sp.A & dr. Rohani Rani, Sp.A